Ali bin Abi Thalib terburu-buru pergi dari rumahnya untuk menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid Nabi. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang lelaki tua, seorang Yahudi tua, yang berjalan menuju arah yang sama. Ali, karena kemuliaan dan keluhuran akhlaknya, berusaha memberikan hormat kepada orang yang lebih tua darinya itu, sehingga ia tidak mau mendahului Yahudi tersebut, walau jalannya sangat lamban. Sesampainya ia di masjid, shalat berjamaah sudah dimulai, bahkan Nabi sudah dalam keadaan ruku bahkan hampir berdiri dari rukunya tersebut. Namun dengan perintah Allah, Jibril turun, lalu meletakkan tangannya di atas bahu Nabi SAW, Jibril menyuruh beliau menahan rukunya, agar Ali tidak sampai kehilangan rakaat pertama.
Setelah shalat selesai dilaksanakan, yang kemudiaan dilanjutkan dengan zikir, doa, serta mengajarkan ilmu-ilmu dari Alquran kepada sahabat, beliau berpaling kepada Jibril, lalu bertanya tentang sebab ghaib yang membuatnya harus memperpanjang ruku. Jibril menjawab bahwa sangat tidak patut jika Ali bin Abi Thalib kehilangan pahala yang terdapat pada rakaat pertama shalat subuh, karena sikap hormat yang ditunjukkannya kepada seorang Yahudi tua yang ditemuinya di tengah perjalanan menuju masjid Nabi.
Jika kita menelaah kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabat, maka kita akan menemukan nuansa keadilan dalam hidup mereka. Setiap orang diperlakukan sesuai denga kedudukannya, dalam arti dipenuhi haknya dan keleluasaan untuk menunaikan kewajibannya. Akibatnya, lahirlah proses timbal balik, di mana setiap orang akan berusaha memberikan yang terbaik untuk yang lainnya. Dalam kondisi seperti inilah, konsep persaudaraan yang diungkapkan dalam Alquran dan hadits benar-benar teraplikasi secara optimal.
Sejatinya, apa yang dicerminkan Ali bin Abi Thalibdalam kisah ini, adalah gambaran punak bagaimana seorang manusia menunaikan hak-hak yang dimiliki manusia lainnya, siapapun orang tersebut. Di mana yang lebih muda harus menghormati yang lebih tua. Seorang anak harus menaati orangtuanya. Seorang murid harus memuliakan gurunya. Walaupun ada tuntutan bagi yang lebih tua untuk menghargai, mengayomi, serta memberika teladan yang baik pula kepada yang muda.
Sesungguhnya, mudah saja bagi Ali untuk mendahului Yahudi tua tersebut, toh ia hanya seorang Yahudi tua kafir, tidak bias melihat, serta berjalan bukan untuk ke masjid. Ia pun juga tidak terkena dosa jika mendahului jalannya. Namun Ali tidak melakukan hal tersebut. Mengapa? Karena beliau tidak ingin mencederai hak orang lain. Biarlah orang lain tidak balas menghormati, biarlah orang lain tidak melihat apa yang dilakukannya, yang penting ia telah menunaikan kwajibannya dengan sebaik mungkin. Sebab, bagaimanapun keadaannya, Yahudi tersebut tetaplah orang yang harus dihargai nilai kemanusiaannya. Inilah yang dinamakan ihsan.
Dalam arti, tidak sekedar melakukan yang baik, namun melakukan yang terbaik. Karena sikapnya itu, Ali peroleh bonus luar biasa dari Allah SWT. Betapa tidak luar biasa, Allah sampai memerintahkan Rasulullah SAW untuk memperlama rukunya, sebagaimana ia perantarakan pesan-Nya kepada Malaikat Jibril. Berkaca dari peristiwa ini, Imam Bakr bin Abdullah Al Mazni mengungkapkan prinsip hidup terkait hubungan interpersonal. Prinsip ini layak kita jadikan pegangan dalam bergaul. Katanya, Jika engkau bertemu dengan orang yang usianya lebih tua, katakanlah, orang ini lebih dahulu daripada aku dalam hal keimanan dan amal saleh. Ia lebih baik dariku. Jika engkau bertemu dengan orang yang usianya lebih muda, katakanlah, aku telah mendahuluinya dalam hal dosa dan kesalahan. Jadi, ia lebih baik dariku. Wallahu’alam.