Keluarga Nabi Muhammad SAW

Abdullah bin Syaibah

Abdullāh bin Syaibah atau lebih dikenal dengan Abdullah bin Abdul-Muththalib (Bahasa Arab: عبدالله بن عبد المطلب‎)‎ (545-570) adalah ayah dari Muhammad, Nabi Islam. Ia anak Abdul-Muththalib. Ia meninggal di perjalanan kafilah antara Mekkah dan Madinah. Saat ia meninggal Muhammad masih dalam kandungan ibunya Aminah.

Silsilah lengkapnya adalah:
عبدالله بن عبد المطلب ابن هاشم بن عبد مناف بن قصي بن كلاب بن مرة بن كعب بن لؤي بن غالب ابن فهر بن مالك بن النضر بن كنانة بن خزيمة بن مدركة بن الياس بن مضر بن نزار بن معد بن عدنان
Dalam huruf latin, ‘Abdullah bin ‘Abdul-Muththalib bin Hasyim (Amr) bin Abdul Manaf (al-Mughira) bin Qushay (Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka`b bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr (Quraish) bin Malik bin an-Nadr (Qais) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah (Amir) bin Ilyas bin Mudar bin Nizar bin Ma`ad bin Adnan.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Abdullah_bin_Syaibah

Aminah binti Wahab

Aminah binti Wahab (???-577) (Bahasa Arab: آمنة بنت وهب) adalah ibu yang melahirkan Muhammad, Nabi Islam. Aminah merupakan anak dari Wahab bin Abd al-Manaf bin Zuhrah bin Kilab yang berasal dari Bani Zuhrah[1], dan ia menikah dengan Abdullah bin Abdul-Muththalib. Menurut sejarah ia meninggal ketika dalam perjalanan menuju Yatsrib untuk mengajak Muhammad mengunjungi pamannya dan melihat kuburan ayahnya. Aminah meninggal pada tahun 577.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Aminah_binti_Wahab

Abū Thālib bin ‘Abdul-Muththalib

Abū Thālib bin ‘Abdul-Muththalib (Bahasa Arab: أبو طالب بن عبد المطلب‎) (549/550619) adalah ayah dari Ali bin Abi Thalib serta paman dari Nabi Muhammad. Nama aslinya adalah Imran, tetapi ia lebih dikenal dengan julukan Abu Thalib, yang artinya bapaknya Thalib. Sebagai pemimpin Bani Hasyim setelah kematian ayahnya, Abdul-Muththalib, ia menjadi pengasuh Nabi Muhammad dan kemudian pendukung utama dalam berdakwah.

Silsilah Keluarga

‘Abd al-Manâf
Muththalib
Hâsyim
‘Abd asy-Syams
Naufal
Asad
‘Abd al-Muththalib
(lahir 497)
Abu Saifi
Nadla bin Hâsyim

[1]

Masing-Masing Punya Cara!

Rumah tangga harmonis merupakan harapan setiap insan. Menurut ajaran Islam, rumah tangga yang diliputi sakinah (ketentraman jiwa), mawaddah (rasa cinta), dan rahmah (kasih sayang), merupakan rumah tangga ideal.

Mari kita lihat, salah satu cara Rasulullah menjaga keharmonisan rumah tangganya. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata,”Rasulullah pernah berkata kepadaku,’Aku tahu kapan engkau senang padaku dan kapan engkau marah padaku.”"Darimana engkau mengetahuinya?” tanya ‘Aisyah. Rasul menjawab,”Jika engkau senang padaku maka engkau akan berkata,’Tidak demi Rabb Muhammad! Sedang jika engkau marah padaku maka engkau akan berkata,’Tidak demi Rabb Ibrahim!”"Benar, yang kuhindari hanyalah menyebut namammu!” ‘Aisyah mengakui. {Hadits shahih riwayat Al-Bukhari (IX/325 & X/497), Muslim (XV/202-203), Ahmad (VI/61) dari jalur ‘Urwah dari ‘Aisyah}

dikutip dari : Majalah Keluarga Islami NIKAH volume 7, hal. 4

or visit at www.majalah-nikah.com

Leave a response

Your response: